TEMPO Interaktif, Magelang - Pemerintah Kabupaten Magelang meminta warga di puluhan desa untuk tetap waspada dengan datangnya banjir lahar dingin Merapi. Kebanyakan desa itu berada di sekitar aliran sungai yang berhulu di puncak gunung.
“Jika turun hujan, mereka harus meningkatkan kewaspadaan,” kata Kepala Sub Bidang Penyelamatan dan Penanggulangan Bencana Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Penanggulangan Bencana Heri Prawoto, Selasa (7/12).
Menurut dia, jika diperlukan warga bahkan bisa kembali mengungsi ke tempat-tempat yang dinilai lebih aman. Cara itu dilakukan untuk menghindari ancaman banjir lahar dingin Merapi merendam perkampungan mereka. “Nanti pemerintah akan menyediakan kebutuhan pengungsi,” kata Heri.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Penanggulangan Bencana Eko Triyono mengatakan ada 79 desa yang terdiri atas 252 dusun di Magelang yang dikategorikan rawan terkena banjir lahar dingin Merapi. Desa-desa itu tersebar di sejumlah kecamatan, di antaranya adalah Srumbung, Salam, Dukun dan Muntilan. “Rata-rata Desa itu berada di sekitar sungai,” katanya.
Dalam catatan, berkali-kali sejumlah rumah di Magelang rusak diterjang banjir lahar dingin Merapi. Di antaranya adalah dua rumah warga di Dusun Prumpang, Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan yang rusak akibat diterjang banjir lahar dingin sungai Pabelan, awal November lalu.
Sepekan sebelumnya, banjir lahar dingin juga merusak satu rumah warga di Dusun Krakitan Desa Sucen Kecamatan Salam. Rumah itu berada persis di tepian sungai Batang yang berhulu di Merapi.
Selain kedua sungai itu, kata Eko, ada sejumlah sungai lain di Magelang yang berhulu di puncak Merapi. Di antaranya adalah sungai Senowo, Blongkeng, Putih dan Lamat. “Warga di sekitarnya harus waspada,” kata dia.
Menurut dia, himbauan kewaspadaan terhadap warga itu penting disampaikan karena para pengungsi terus pulang ke desa mereka. Kepulangan pengungsi itu berlangsung sejak status aktivitas Merapi dinyatakan turun dari awas menjadi siaga, pekan lalu.
“Jika turun hujan, mereka harus meningkatkan kewaspadaan,” kata Kepala Sub Bidang Penyelamatan dan Penanggulangan Bencana Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Penanggulangan Bencana Heri Prawoto, Selasa (7/12).
Menurut dia, jika diperlukan warga bahkan bisa kembali mengungsi ke tempat-tempat yang dinilai lebih aman. Cara itu dilakukan untuk menghindari ancaman banjir lahar dingin Merapi merendam perkampungan mereka. “Nanti pemerintah akan menyediakan kebutuhan pengungsi,” kata Heri.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Penanggulangan Bencana Eko Triyono mengatakan ada 79 desa yang terdiri atas 252 dusun di Magelang yang dikategorikan rawan terkena banjir lahar dingin Merapi. Desa-desa itu tersebar di sejumlah kecamatan, di antaranya adalah Srumbung, Salam, Dukun dan Muntilan. “Rata-rata Desa itu berada di sekitar sungai,” katanya.
Dalam catatan, berkali-kali sejumlah rumah di Magelang rusak diterjang banjir lahar dingin Merapi. Di antaranya adalah dua rumah warga di Dusun Prumpang, Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan yang rusak akibat diterjang banjir lahar dingin sungai Pabelan, awal November lalu.
Sepekan sebelumnya, banjir lahar dingin juga merusak satu rumah warga di Dusun Krakitan Desa Sucen Kecamatan Salam. Rumah itu berada persis di tepian sungai Batang yang berhulu di Merapi.
Selain kedua sungai itu, kata Eko, ada sejumlah sungai lain di Magelang yang berhulu di puncak Merapi. Di antaranya adalah sungai Senowo, Blongkeng, Putih dan Lamat. “Warga di sekitarnya harus waspada,” kata dia.
Menurut dia, himbauan kewaspadaan terhadap warga itu penting disampaikan karena para pengungsi terus pulang ke desa mereka. Kepulangan pengungsi itu berlangsung sejak status aktivitas Merapi dinyatakan turun dari awas menjadi siaga, pekan lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar